Minggu, 01 Juli 2012

Capacity Building: Menyatukan Teori, Nilai, dan Tindakan


Peningkatan kapasitas (capacity building)
dalam PNPM Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd)
tak selalu dilaksanakan sesuai dengan tujuan adanya.
Tak jarang kegiatan tersebut direduksi menjadi sekadar pelengkap
bahkan penggugur kewajiban.  
OLEH FEBRIE G. SETIAPUTRA




Adalah Ludiro Prajoko, seorang mantan konsultan National Management Consultant (NMC) PNPM-MPd, yang berupaya menyampaikan gagasan mula kegiatan peningkatan kapasitas itu dalam sebuah buku kecil berjudul Yang Tak Sampai ... . Ya, benar-benar sebuah buku kecil. Tetapi, anggapan bahwa nilai buku ini tak sekecil wujudnya sungguh tak berlebihan.
Buku ini menarik. Pertama, seperti telah disampaikan di awal, penulis buku ini berasal dari internal PNPM-MPd. “Orang dalam,” kata orang. Ia mengawali karirnya pada 2003 sebagai fasilitator pelatihan untuk Provinsi Bali dan NTB. Saat itu PNPM-MPd masih bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Kemudian ia dipercaya mengemban tugas sebagai Spesialis Pelatihan PNPM-MPd untuk Provinsi NTT. Sejak akhir 2007, ia melanjutkan kariernya sebagai spesialis untuk Program Pengembangan Sistem Pembangunan Partisipatif (P2SPP) di lingkungan NMC. Akhirnya, ia menjabat sebagai Deputy Team Leader (DTL) Devisi Support Program yang menaungi sejumlah pilot project dan program khusus PNPM-MPd pada 2009-2011. Artinya, pengetahuan dan pengalaman penulis mengenai seluk beluk PNPM-MPd, khususnya dalam bidang penguatan kapasitas, tak diragukan lagi.
Kedua, buku ini ditulis justru ketika sebagian besar fasilitator PNPM-MPd terjebak dalam kesibukan menyelesaikan tahapan kegiatan dan beban laporan. Buku ini pun diterbitkan justru ketika sebagian besar fasilitator PNPM-MPd tak dapat mengaktualisasikan diri melalui kegiatan yang kaya dan memerkaya wawasan, membaca dan menulis misalnya.
Ketiga, buku ini lahir dan memberikan titik terang ketika belakangan dana untuk Ruang Belajar Masyarakat (RBM) sebesar Rp300 juta per kabupaten memicu kegaduhan dan mengacaukan suasana. Soal RBM tersebut, penulis buku ini meluruskan dengan tegas, “Siapa saja dari kalangan pelaku PNPM-MPd, yang memahami secara benar RBM, wajib hukumnya mencegah RBM jatuh martabatnya menjadi urusan serap menyerap DOK” (p. 80).
Buku ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, Perspektif, berisi keberadaan dan posisi dasar capacity building, posisi strategis, arah dan orientasi, pendekatan, sasaran strategis, serta cakupan kegiatan. Bagian kedua, Acuan Tindak, berisi skenario pencapaian tujuan, pelatihan fasilitator, pelatihan masyarakat, pengelolaan fasilitator-pelatih, dan RBM. Sedangkan, bagian ketiga, Hal-hal Teknis, berisi rancang bangun kegiatan capacity building, penyusunan modul, strategi fasilitasi, dan gugat diri sebagai sebuah pendekatan pelatihan.
Dalam paparannya, penulis tak terjebak dalam pembicaraan teknis. Tak ada satu pun bagian dalam buku ini yang membicarakan tentang teknik fasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas. Isi buku ini murni tentang gagasan. Sebagaimana subjudulnya: Kumpulan Gagasan Seputar Capacity Building dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Namun, justru di situlah letak urgensinya. Banyak pelaku PNPM-MPd teralienasi dari pemberdayaan yang sesungguhnya dan bahkan dirinya. Mereka menjadi terbiasa berpikir dan bertindak mekanis. Nah, buku ini menawarkan yang berbeda: gugat diri dan refeksi kritis.
Menurut penulis, peningkatan kapasitas atau capacity building (selanjutnya disingkat CB) adalah inti keberadaan dan menjadi aktivitas pokok dalam PNPM-MPd. Semua aktivitas dalam pelaksanaan kegiatan PNPM-MPd digerakkan dengan dan untuk tujuan peningkatan kapasitas sebagai syarat mutlak pencapaian tujuan program. Dengan demikian, wajar bila tersimpul bahwa semua capaian PNPM-MPd adalah akibat dari keberhasilan atau kegagalan CB.
CB yang melekat pada setiap kegiatan PNPM-MPd berada dalam kerangka Kesatuan Teori, Nilai, dan Tindakan (KTNT). Pendekatan KTNT merupakan kerangka logis dan komprehensif untuk mengkaji dan mengeksplorasi gagasan, melakukan refleksi dan evaluasi kritis berbagai masalah dan perkembangan dalam pelaksanaan program, serta patokan bertindak para pelaku dalam konteks fasilitasi kegiatan. KTNT, kata penulis, tak diperlukan bila pemberdayaan hanya dipahami dan diperlakukan sebagai skenario yang mengurung masyarakat tak berdaya dalam sebuah realitas semu yang diciptakan melalui mekanisme dan ketentuan yang dibuat sendiri oleh program (PNPM-MPd) untuk kemudian menyuapi dan menghibur masyarakat itu dengan BLM.
Banyak kritik yang dilontarkan oleh penulis dalam buku ini. Pertama, dalam PNPM-MPd belum terbangun tradisi mengelola fasilitator-pelatih sebagaimana mestinya. Menurutnya, penataan pengelolaan fasilitator-pelatih mestinya ditempatkan dalam konteks PNPM-MPd sebagai sebuah sistem. Kedua, CB, termasuk RBM, adalah sebuah dinamika yang didalamnya masyarakat luas dapat melakukan transaksi komunikasi, gagasan, pemikiran, aspirasi, dan lain-lain yang berkenaan dengan hajat hidup masyarakat. Tetapi, dalam beberapa praktiknya, CB berubah menjadi tempat atau sarana bagi masyarakat untuk belajar hal-hal teknis. Ketiga, dalam PNPM-MPd belum dirumuskan konsep yang jelas sebagai acuan orientasi pelaksanaan semua aktivitas PNPM-MPd, termasuk CB. CB belum dilaksanakan dalam skema operasi yang saling terkait secara logis, sistematis, dan karenanya saling menguatkan. Dan keempat, kebijakan operasional berkenaan dengan aspek strategis kegiatan CB belum tersedia.
Sedikit kekurangan dalam buku ini adalah masih ditemukannya beberapa salah ketik. Misalkan, mengcengangkan terketik mencenganggkan (p. 55) dan fasilitator terketik fasiklitator (p. 57). Soal lain, struktur kalimat di beberapa bagian kurang baik. Pada aras sistematika, kadang terdapat lompatan narasi atau pengulangan-pengulangan antarsubbagian. Bisa jadi itu gaya penulis dalam mengeksplorasi ide-idenya. Dan itu lumrah. Buku ini adalah kumpulan gagasan, maka yang demikian itu bisa dan biasa terjadi. Toh, itu tak sampai mengganggu kenyamanan baca atau mengurangi esensi keseluruhan karya ini. Setiap pembaca pasti ingin mencermati gagasan di halaman demi halaman buku ini hingga tuntas.
Adalah Ludiro Prajoko, seorang mantan konsultan NMC PNPM-MPd, yang berupaya tak hanya menyampaikan gagasan mula tetapi juga menggugat pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas dalam PNPM-MPd. Dan upaya itu (sayangnya) berhasil.•




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar